Setelah mengikuti pelajaran filsafat kurang lebih 1 semester, banyak ilmu yang saya peroleh. Meskipun susah sekali dalam memahami kata-kata yang digunakan dalam elegi sehingga butuh berulang-ulang membacanya. Akan tetapi dari elegi-elegi yang saya baca, saya menjadi semakin mengerti banyak hal. Mungkin yang saya peroleh dengan yang diperoleh teman saya berbeda. Karena saya berbeda dengan teman saya. Kemampuan saya pun mungkin berbeda. Saya menyadari bahwa diri saya masih banyak kekurangan dan ilmu yang saya miliki ternyata masih sangat sedikit tak sebanding dengan ilmu yang ada. Sehingga hal ini memotivasi saya untuk lebih giat belajar dan menuntut ilmu. Adapun manfaat yang saya peroleh, diantaranya adalah saya semakin menyadari bahwa dalam bertindak kita harus senantiasa berhati-hati dan berusaha memperhatikan ruang dan waktu. Jangan sampai apa yang kita lakukan tidak barmanfaat dan merugikan diri kita maupun orang lain. Apapun yang kita lakukan juga harus sesuai dengan hati nurani. Sesuatu yang menurut kita benar belum tentu benar menurut orang lain. Karena kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT.
Filsafat ternyata juga bermanfaat dalam bidang pendidikan. Berbeda dengan yang selama ini saya pikirkan. Saya bertanya-tanya apa ada hubungan filsafat dengan matematika. Ternyata bagi seorang guru, filsafat berguna untuk mengkomunikasikan segala sesuatu. Kita sebagai calon guru, ternyata memiliki tugas yang amat berat. Tak seperti yang saya bayangkan dulu. Menjadi guru matematika sedikit menjelaskan kemudian memberikan latihan soal sebanyak mungkin. Tanpa mengetahui keinginan siswa dan memperhatikan karakter setiap siswa. Setelah belajar filsafat, saya menjadi tahu ternyata tugas seorang guru bukan hanya membuat muridnya bisa mengerjakan banyak soal dengan cepat dan tepat sehingga memperoleh hasil yang memuaskan. Tugas seorang guru lebih berat yaitu membuat siswa-siswanya memahami sesuatu dan mampu menjelaskan segala sesuatu. Kita harus bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa dan yang menyenangkan. Padahal setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Tantangan bagi kita calon guru yaitu bagaimana menangani siswa-siswa yang memiliki beraneka ragam karakter dan yang berasal dari wilayah yang memiliki beraneka ragam budaya. Bagaimana kita bisa berbuat adil terhadap semua siswa. Selain itu juga, pembelajaran yang kita pilih sesuai dengan kurikulum dan mengikuti perkembangan teknologi. Metode yang kita terapkan juga harus melibatkan peran aktif siswa (student center). Sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplore kemampuannya . Siswa belajar sendiri maupun berkelompok untuk menemukan konsep dengan menggunakan LKS. Kita juga harus memberikan kesempatan siswa menggunakan pengalamannya untuk mempelajari ilmu. Selain itu juga tantangan bagi kita untuk menggunakan berbagai macam pendekatan dalam mengajar. Pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivis dan lain-lain. Kita sebagai calon guru hanyalah sebagai pembimbing. Begitu berat tugas seorang guru, sehingga butuh perjuangan keras untuk bisa melaksanakan semua tugas guru tersebut. Marilah kita bersama-sama berusaha agar bisa menjadi guru yang baik. Marilah kita saling merefleksikan diri dan terus belajar.
Minggu, 24 Mei 2009
Minggu, 17 Mei 2009
Sabtu, 16 Mei 2009
Elegi Perbincangan Segitiga
Elegi Perbincangan Segitiga
Orang tua berambut putih :
Wah-wah ada apa ini, ramai sekali. Kenapa sesama segitiga saling bertengkar? Kenapa kalian saling menjatuhkan dan membanggakan diri sendiri?
Segitiga-segitiga :
Wahai orang tua berambut putih, kami tak memanggilmu,kenapa kamu datang?
Orang tua beramnbut putih :
Aku tadi mendengar ada yang bertanya siapakah yang paling hebat. Makanya aku datang. Sekarang coba perkenalkan diri kalian satu persatu.
Segitiga 1:
Wahai orang tua berambut putih, dengan senang hati aku akan memperkenalkan diriku. Perkenalkanlah aku segitiga 1. Aku memiliki 3 sisi dan 3 sudut. Ketiga sisi dan besar sudutku tidaklah sama. Aku sering dipanggil segitiga sembarang. Haha keren kan namaku?
Segitiga 2 :
Wahai segitiga 1 sombong sekali kau. Mana kelebihanmu? Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 2. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. ukuran sudutku kurang dari 90°. Aku biasa dipanggil segitiga lancip. Aku lebih keren kan?
Segitiga 3 :
Wahai segitiga 2 sombong sekali kau. Cuma itu kelebihanmu? Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 2. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. salah satu ukuran sudutku lebih dari 90°. Sudutku lebih besar dari segitiga 2. Aku biasa dipanggil segitiga tumpul.
Segitiga 4 :
Wahai segitiga 1,2,3 kalian tak lebih hebat dari aku. Aku juga punya 3 sisi dan 3 titik sudut. ukuran salah satu sudutku istimewa yaitu sama dengan 90°. Aku biasa dipanggil segitiga siku-siku. Aku memang hebat.
Segitiga 1,2,3 :
Huh gitu aja sombong, masih banyak segitiga-segitiga yang belum memperkenalkan diri. Jangan dulu merasa hebat!!!!
Orang tua berambut putih :
Tenang-tenang. Jangan ribut. Kasihan yang lain belum memperkenalkan diri. Ayo lanjutkan, segitiga 5,siapakah dirimu?
Segitiga 5 :
Kalian ini ribut kayak anak kecil. Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 5. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. Kedua sisiku ukurannya sama. Sehingga banyak yang memanggilku segitiga sama kaki. Lebih keren kan? Hahahaahahaha
Segitiga 6 :
Segitiga 5 jangan sombong dulu, aku lebih hebat dari pada dirimu. Perkenalkan semuanya ,aku segitiga 6. Aku mempunyai 3 sisi dan 3 sudut. aku tidak hanya memiliki 2 sisi yang ukurannya sama. Akan tetapi ketiga sisiku berukuran sama. ketiga ukuran sudutku juga sama besar. Sehingga aku dikenal dengan nama segitiga sama sisi. Yes! Aku yang paling hebat!!
Segitiga 7 :
Tunggu dulu segitiga 6, jangan senag dulu, masih ada aku yang belum memperkenalkan diri. Perkenalkan semuanya, aku mempunyai 3 sisi dan 3 sudut. kedua sisiku ukurannya sama, dan besar sudut yang diapit kedua sisiku yang berukuran sama adalah 90°. Sehingga aku disebut segitiga siku-siku sama kaki. Jadi aku yang paling hebat kan???? Benarkan orang tua berambut putih?
Segitiga 1,2,3,4,5,6 :
Jangan sombong dulu kau segitiga 7. Coba menurut orang tua berambut putih, siapakah diantara kami yang paling hebat???
Orang tua berambut putih :
Baiklah aku sudah mendengar kelebihan-kelebihan kalian. Wahai segitiga-segitiga, sesungguhnya diantara kalian tidak ada yang paling hebat. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah satu kesatuan, satu keluarga. Masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Satukan kelebihan-kelebihan itu agar menjadi kekuatan. Jika boleh aku katakan kalian adalah satu keluarga bidang datar. Jadi jangan saling menjatuhkan. Saling melengkapilah. Saya pergi dulu, masih banyak urusan.
Segitiga 1,2,3,4,5,6,7 :
Terima kasih orang tua berambut putih. Kami sudah menyadari kesalahan kami. Tak seharusnya satu keluarga bertengkar untuk mengetahui yang paling hebat. Kami akan ingat pesanmu.
orang tua berambut putih :
Sama-sama. Segeralah saling minta maaf.
Orang tua berambut putih :
Wah-wah ada apa ini, ramai sekali. Kenapa sesama segitiga saling bertengkar? Kenapa kalian saling menjatuhkan dan membanggakan diri sendiri?
Segitiga-segitiga :
Wahai orang tua berambut putih, kami tak memanggilmu,kenapa kamu datang?
Orang tua beramnbut putih :
Aku tadi mendengar ada yang bertanya siapakah yang paling hebat. Makanya aku datang. Sekarang coba perkenalkan diri kalian satu persatu.
Segitiga 1:
Wahai orang tua berambut putih, dengan senang hati aku akan memperkenalkan diriku. Perkenalkanlah aku segitiga 1. Aku memiliki 3 sisi dan 3 sudut. Ketiga sisi dan besar sudutku tidaklah sama. Aku sering dipanggil segitiga sembarang. Haha keren kan namaku?
Segitiga 2 :
Wahai segitiga 1 sombong sekali kau. Mana kelebihanmu? Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 2. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. ukuran sudutku kurang dari 90°. Aku biasa dipanggil segitiga lancip. Aku lebih keren kan?
Segitiga 3 :
Wahai segitiga 2 sombong sekali kau. Cuma itu kelebihanmu? Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 2. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. salah satu ukuran sudutku lebih dari 90°. Sudutku lebih besar dari segitiga 2. Aku biasa dipanggil segitiga tumpul.
Segitiga 4 :
Wahai segitiga 1,2,3 kalian tak lebih hebat dari aku. Aku juga punya 3 sisi dan 3 titik sudut. ukuran salah satu sudutku istimewa yaitu sama dengan 90°. Aku biasa dipanggil segitiga siku-siku. Aku memang hebat.
Segitiga 1,2,3 :
Huh gitu aja sombong, masih banyak segitiga-segitiga yang belum memperkenalkan diri. Jangan dulu merasa hebat!!!!
Orang tua berambut putih :
Tenang-tenang. Jangan ribut. Kasihan yang lain belum memperkenalkan diri. Ayo lanjutkan, segitiga 5,siapakah dirimu?
Segitiga 5 :
Kalian ini ribut kayak anak kecil. Sekarang giliranku, kenalkan diriku segitiga 5. Aku juga punya 3 sisi dan 3 sudut. Kedua sisiku ukurannya sama. Sehingga banyak yang memanggilku segitiga sama kaki. Lebih keren kan? Hahahaahahaha
Segitiga 6 :
Segitiga 5 jangan sombong dulu, aku lebih hebat dari pada dirimu. Perkenalkan semuanya ,aku segitiga 6. Aku mempunyai 3 sisi dan 3 sudut. aku tidak hanya memiliki 2 sisi yang ukurannya sama. Akan tetapi ketiga sisiku berukuran sama. ketiga ukuran sudutku juga sama besar. Sehingga aku dikenal dengan nama segitiga sama sisi. Yes! Aku yang paling hebat!!
Segitiga 7 :
Tunggu dulu segitiga 6, jangan senag dulu, masih ada aku yang belum memperkenalkan diri. Perkenalkan semuanya, aku mempunyai 3 sisi dan 3 sudut. kedua sisiku ukurannya sama, dan besar sudut yang diapit kedua sisiku yang berukuran sama adalah 90°. Sehingga aku disebut segitiga siku-siku sama kaki. Jadi aku yang paling hebat kan???? Benarkan orang tua berambut putih?
Segitiga 1,2,3,4,5,6 :
Jangan sombong dulu kau segitiga 7. Coba menurut orang tua berambut putih, siapakah diantara kami yang paling hebat???
Orang tua berambut putih :
Baiklah aku sudah mendengar kelebihan-kelebihan kalian. Wahai segitiga-segitiga, sesungguhnya diantara kalian tidak ada yang paling hebat. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah satu kesatuan, satu keluarga. Masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Satukan kelebihan-kelebihan itu agar menjadi kekuatan. Jika boleh aku katakan kalian adalah satu keluarga bidang datar. Jadi jangan saling menjatuhkan. Saling melengkapilah. Saya pergi dulu, masih banyak urusan.
Segitiga 1,2,3,4,5,6,7 :
Terima kasih orang tua berambut putih. Kami sudah menyadari kesalahan kami. Tak seharusnya satu keluarga bertengkar untuk mengetahui yang paling hebat. Kami akan ingat pesanmu.
orang tua berambut putih :
Sama-sama. Segeralah saling minta maaf.
Senin, 04 Mei 2009
Filsafat, Ilmu dan Ilmu Pengetahuan sebagai Jalan Menuju Kebenaran
Ditulis WangMuba pada 20 Apr. 2009, Kategori ARTIKEL, Filsafat Ilmu & Psikologi
PENGERTIAN FILSAFAT
Secara epistimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia, dan terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan). Namun pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana kita mendefinisi filsafat itu sendiri? Hamersma (1981: 10) mengatakan bahwa Filsafat merupakan pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan Jadi, dari definisi ini nampak bahwa kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat kebenaran”.
Sebenarnya, pengertian tentang filsafat cukup beragam. Titus et.al (dalam Muntasyir&Munir, 2002: 3) memberikan klasifikasi pengertian tentang filsafat, sebagai berikut :
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentris.
5. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Ciri-Ciri Berpikir Dalam Filsafat
Dalam memahami suatu permasalahan, ada perbedaan tentang karakteristik dalam berfikir antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain. Mudhofir dalam Muntasyir&Munir (2002: 4-5) mengatakan bahwa ciri-ciri berfikir kefilsafatan sebagai berikut :
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?
4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Bidang dalam Filsafat
Secara umum, bidang-bidang utama filsafat terbagi menjadi 3 bagian, yaitu metafisika, epistimologi dan aksiologi. Secara ringkas ketiga bidang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Metafisika. Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta ta physika yang berarti segala sesuatu yang berada di balik hal-hal yang sifatnya fisik. Metafisika sendiri dapat diartikan sebagai cabang filsafat yang paling utama, yang membicarakan mengenai keberadaan (being) dan eksistensi (existence). Oleh karena itu, metafisika lebih mempelajari sesuatu atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Menurut Wolff, metafisika dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu :
* Metafisika Umum (Ontologi), yaitu metafisika yang membicarakan tentang “Ada” (Being).
* Metafisika Khusus, yaitu metafisika yang membicarakan sesuatu yang sifatnya khusus. Dalam metafisika khusus ini, Wolff membagi ke dalam 3 (tiga) kategori :
o Psikologi, yang membahas mengenai hakekat manusia
o Kosmologi, yang membahas mengenai alam semesta
o Theologi, yang membahas mengenai
2. Epistimologi. Epistimologi berasal dari kata Episteme yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti teori. Oleh karena itu, epistimologi berarti teori pengetahuan. Permasalahan-permasalahan yang menjadi fokus pembicaraan epistimologi adalah asal-usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dan kebenaran, dan sebagainya. Dalam epistimologi, pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan kebenaran.
3. Aksiologi. Aksiologi berasal dari kata axios yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos yang berarti akal atau teori. Oleh karena itu, aksiologi dapat diartikan sebagai teori mengenai sesuatu yang bernilai. Dalam cabang ini, salah satu yang paling mendapatkan perhatian adalah masalah etika/kesusilaan. Dalam etika, obyek materialnya adalah perilaku manusia yang dilakukan secara sadar. Sedangkan obyek formalnya adalah pengertian mengenai baik atau buruk, bermoral atau tidak bermoral dari suatu perilaku manusia.
DEFENISI FILSAFAT ILMU
Menurut Beerling (1985; 1-2) filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara utnuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjuta. Dia merupakan suatu bentuk pemikiran secara mendalam yang bersifat lanjutan atau secondary reflexion. Refleksi sekunder seperti itu merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada. Refelksi sekunder banyak memberi sumbangan dalam usaha memberi tekanan perhatian pada metodikaserta sistem dan untuk berusaha memperoleh pemahaman mengenai azas-azas, latar belakang serta hubungan-hubungan yang dipunyai kegiatan ilmiah. Sumbangan tersebut bisa berbentuk (1) mengarahkan metode-metode penyelidikan ilmiah kejuruan kepada penyelenggaaraan kegiatan ilmiah; (2) menerapkan penyelidikan kefilsafatan terhadap terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah. Dalam hal ini mempertanyakan kembali secara de-jure mengenai landasan-landasan serta azas-azas yang memungkinkan ilmu itu memberi pembenaran pada dirinya serta apa yang dianggapnya benar.
Filsafat ilmu adalah refleksi yang mengakar terhadap prinsip-prinsip ilmu. Prinsip ilmu adalah sebab fundamental dan kebenaran universal yang lengket didalam ilmu yang pada akhirnya memberi jawaban terhadap keberadaan ilmu. Dengan mengetahui seluk-beluk prinsip ilmu itu maka dapat diungkapkan perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan perkembangannya, keterjalinan antar ilmu, ciri penanganan secara ilmiah, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan sebagainya yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri (Suriasumantri, 1986; 301-302). Filsafat ilmu pengetahuan membahas sebab musabab pengetahuan dan menggali tentang kebenaran, kepastian, dan tahap-tahapnya, objektivitas, abstraksi, intuisi, dan juga pertanyaan mengenai “dari mana asalnya dan kemana arah pengetahuan itu?” (Verhaak & Haryono, 1989; 12-13).
Perbedaan filsafat ilmu dengan filsafat atau ilmu-ilmu lain seperti sejarah ilmu, psikologi, sosiologi, dan sebagainya terletak apada masalah yang hendak dipecahkan dan metode yang akan digunakan. Filsafat ilmu tidak berhenti pada pertanyaan mengenai bagaimana pertumbuhan serta cara penyelenggaraan ilmu dalam kenyatannya, melainkan mempermasalahkan masalah metodologik, yakni mengenai azas-azas serta alasan apakah yang menyebabkan ilmu dapat menyatakan bahwa ia memperoleh pengetahuan ilmiah (Beerling, 1985; 2). Pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab oleh ilmu itu sendiri tetapi membutuhkan analisa kefilsafatan mengenai tujuan serta cara kerja ilmu. Pertalian antara filsafat dan ilmu harus terjelma dalam filsafat ilmu. Kedudukan filsafat iilmu dalam lingkungan fisafat secara keseluruhan adalah pertama, bahwa filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat ilmupengetahuan (epistemologi); kedua, filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu dijumbuhkan denganmetodologi (Beerling, 1985; 4). Hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan lebih erat dalam bidang ilmu pengetahuan manusia. Ilmu-ilmu manusia seringkali lebih jelas masih mempunyai filsafat ilmu tersembunyi (Bertens, 1987; 21 dan Katsoff, 1986; 105-106).
HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan. Antara definisi filsafat dan ilmu pengetahuan memang hampir mirip namun kalau kita menyimak bahwa di dalam definisi ilmu pengetahuan lebih menyoroti kenyataan tertentu yang menjadi kompetensi bidang ilmu pengetahuan masing-masing, sedangkan filsafat lebih merefleksikan kenyataan secara umum yang belum dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan (Muntasyir&Munir,2000: 10). Walaupun demikian, ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidikinya, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Wibisono (1997: x) pada Artikel kunci “Gagasan Strategik Tentang Kultur Keilmuan Pada Pendidikan Tinggi”, yang mengambil pendapat H.J. Pos, beliau menandaskan bahwa abad ke-19 dan 20, dan bahkan sampai sekarang, diidentifikasi sebagai suatu abad yang ditandai oleh dominasinya peran ilmu pengetahuan dalam kehidupan umat manusia.
Dominasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia memang tidak dapat dipungkiri. Betapa tidak, dominasi ini paling kurang membawa pengaruh dan manfaat bagi manusia, atau justru berpengaruh negatif dan membawa malapetaka. Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Ahmad Syukri (1997: 18-19), ilmu yang berorientasi pada kepentingan pragmatis, orientasi duniawi, atau mengesampingkan yang transenden, akan membawa malapetaka bagi kemanusiaan pada umumnya. Ilmu dinilai bukan karena dirinya sendiri, tetapi nilai ilmu pengetahuan berada dalam kesanggupannya membuat kehidupan lebih bernilai dan memberikan kebahagiaan, demi kebutuhan untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan manusia, maka bentuk ilmu itu memberikan kemanfaatan.
Selanjutnya, dalam bukunya yang berjudul Epistemologi Dasar, J. Sudarminta mengatakan bahwa ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia yaitu:
1. kepastian mutlak tentang kebenaran segala pengetahuan kita memang tidak mungkin, sebab manusia adalah makhluk contingent dan fallible. Tetapi ini tidak berarti bahwa semua pengetahuan manusia pantas dan perlu dipergunakan kebenarannya. Maka, skeptisisme mutlak pantas ditolak.
2. subjek berperan aktif dalam kegiatan mengetahui dan tidak hanya bersifat pasif menerima serta melaporkan objek apa adanya. Tetapi ini tidak berarti bahwa pengetahuan manusia melulu bersifat subjektif. Maka, subjektivisme radikal juga pantas disangkal.
3. pengetahuan manusia memang bersifat relasional dan kontekstual, tetapi itu tidak berarti bahwa objektivitas dan universalitas pengetahuan menjadi tidak mungkin. Menurut Sudarminta (2002: 60) pelbagai bentuk relativisme ilmu pengetahuan, walaupun punya sumbangan yang berharga, merupakan suatu pandangan tentang pengetahuan yang tidak bisa diterima.
DASAR-DASAR ILMU PENGETAHUAN
Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Tetapi jauh sebelum Aristoteles, Socrates mengatakan hal yang nampaknnya bertentangan dengan ungkapan Aristoteles tersebut, yaitu bahwa tidak ada seorang manusia pun yang mempunyai pengetahuan (Hadi, 1994: 13). Kontradiktif ini tidak perlu diperdebatkan. Sebab menurut Plato bahwa filsafat dimulai dengan rasa kagum. Kekaguman filosofis ini bukanlah kekaguman akan hal-hal yang rumit, canggih atau kompleks, tetapi justru kekaguman akan sesuatu yang sederhana yang tampaknya jelas dalam pengalaman sehari-hari.
Hadi (1994: 14-15) menyatakan kekaguman dalam hal ini adalah mempertanyakan hal-hal yang ada dihadakan kita, yang dalam anggapan umum dianggap telah diketahui. Oleh karena itu seseorang harus tahu apa yang dicarinya dan berusaha untuk menemukan apa yang dicari tersebut, demikian menurut Plato.
Pengetahuan filosofis ingin menarik diri dari apa yang dianggap sebagai kejelasan umum untuk kembali ke dalam sesuatu yang eksistensial dalam keadaan aslinya. Karenanya, seorang filsuf tidak ada henti-hentinya bertanya. Pernyataan Socrates dan Aristoteles terkesan bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Menurut Aristoteles, semua orang dari kodratnya ingin tahu, dan langkah pertama untuk mencapai pengetahuan itu adalah kesadaran socrates bahwa tidak ada seorang pun yang sudah tahu. Untuk mencapai pengetahuan, Bernard Paduska&R. Turman Sirait ( 1997: 5), seseorang harus sadar bahwa ia “belum tahu” dan karena itu ia “ingin tahu”. Dalam redaksi berbeda, namun dapat disetir menjadi satu makna, bahwa menurut filsafat eksistensialisme anda adalah anda karena anda menghendaki demikian.
Dengan uraian di atas, kita dapat melihat adanya dua macam bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan harian atau penggetahuan biasa (common sense) dan pengetahuan ilmiah. Dalam filsafat, pengetahuan biasa sering dianggap sebagai pengetahuan inderawi, sedangkan pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan berdasarkan akal budi (intelektif).
Korelasi pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif membentuk dasar dalam perkembangan ilmu pengetahuan secara global. Sejarahnya telah terukir, betapa dua konsep dasar ini menjadi cikal-bakal yang meletakkan dasar konsep ilmiah. Keilmuan yang ilmiah dapat lahir dari pengamatan yang mendalam tentang semua objek, tetapi juga dasar ilmiah dapat dibangun dari perenungan yang jernih dan mendalam, terukur dan dapat dianalisa, sistematis serta dapat dipelajari, itulah sebagian konsep ilmiah.
Socrates adalah tokoh yang sangat diperhitungkan, meskipun ia tidak secara langsung bicara tentang kebenaran ilmiah. Ketika itu Socrates berhadapan dengan kaum sofis. Filsafat Socrates bahkan sering disebut sebagai reaksi terhadap kaum sofis. Bagi Socrates, kebenaran objektif itu ada, dan bukan hal yang berbau teoritis tapi hidup praktis. Menurutnya, tidak sembarang tingkah laku disebut baik, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik; ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Dengan ini socrates meletakkan dasar berkembangnya gagasan tentang adanya kebenaran, kemudian dilanjutkan dengan oleh Plato. Bagi Plato kebenaran adalah sesuatu yang terdapat pada apa yang dikenal, atau pada apa yang dikejar untuk dikenal . Hal ini sesuai dengan ajaran Plato mengenai idea-idea, bahwa realitas yang sesungguhnya berada didalam dunia idea sedangkan realitas inderawi hanyalah bayang-bayang (Bertens K, 1991: 110-111).
Menurut Wibisono dalam makalahnya mengatakan, Sejalan dengan perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesatnya. Dalam perjalanan selanjutnya, terdapat fenomena adanya suatu konfigurasi yang menunjukkan tentang bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” itu telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang-filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Berkaitan dengan ilmu-ilmu, pengetahuan yang dicari dan diperoleh sering disebut dengan istilah pengetahuan ilmiah. Menurut Bahm ( 1980: 1) ada lima unsur pokok dalam suatu pengetahuan yang disebut ilmiah yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh tertentu. Aristoteles menguraikan sistem berpikir ilmiah yang dikenal dengan logika. Menurut Aristoteles terdapat sepuluh kategori yang berkaitan dengan pengertian, yaitu substanti, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, keadaan, mempunyai, berbuat, dan menderita.
Pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang sudah dipertanggung-jawabkan secara ilmiah atau diperoleh dengan metode ilmiah. Sebaliknya, pengetahuan sehari-hari yang tidak atau belum dipertanggungjawabkan secara ilmiah disebut pengetahuan pra-ilmiah (Lorens, 1996: 806). Salah satu ciri pengetahuan ilmiah adalah adanya anggapan bahwa pengetahuan ilmiah itu berlaku ilmiah. Mengeni apakah sesuatu dapat atau tidak disebut ilmiah tidak tergantung pada faktor-faktor subjektif. Bisa saja orang berbeda pendapat tentang dasar pembenaran suatu teori, tetapi hal tersebut hanya menunjukkan bahwa faktor-faktor objektif yang bersangkut paut dengan persoalan tadi tidak atau masih dapat membuahkan hasil yang tidak bermakna ganda (ambiguitas). Adanya saling pengaruh antara sifat dan kadar pengetahuan ilmiah dengan sarana-sarana untuk mencapainya mengakibatkan pergeseran-pergeseran, pengertian “ilmiah” sepanjang sejarah. Namun demikian perkembangan ilmu secara mandiri harus dapat dipertahankan.
Menurut Beerling,dkk (1996: 6-7) secara spesifik ada tiga macam pengenalan dari pengetahuan yang disebut ilmiah. (1) pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang mempunyai dasar pembenaran. Setiap pengetahuan ilmiah harus punya dasar pembenaran berdasarkan pemahaman-pemahaman yang dapat dibenarkan secara apriori serta secara empiris melalui penyelidikan ilmiah yang memadai. (2) pengetahuan ilmiah bersifat sistematis. Penyelidikan ilmiah tidak membatasi diri hanya pada satu bahan saja, tapi senantiasa mencari hubungan dengan sejumlah bahan lainnya dan berusaha agar hubungan-hubungan itu merupakan suatu kebulatan. (3) pengetahuan ilmiah itu adalah bersifat inter-subjektif. Kepastian pengetahuan ilmiah tidak didasarkan atas intuisi-intuisi serta pemahaman orang perorangan yang subjektif, melainkan dijamin oleh sistemnya sendiri. Pengetahuan ilmiah haruslah sedemikian rupa sehingga dalam setiap bagiannya dan dalam bagian yang menyeluruh dapat ditanggapi oleh subjek-subjek lain. Terhadap hasil penyelidikan dimungklinkan ada kesepakatan yang bersifat inter-subjektif.
Di samping apa yang sudah diuraikan di atas, menurut Sudarminta (2002: 32-44) perlu ditambahkan juga bahwa dasar-dasar pengetahuan itu tidak lepas dari peran pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa, dan kebutuhan hidup manusia .
CARA MENCAPAI KEBENARAN
Dalam sejarah kehidupan, manusia selalu berusaha untuk mencari kebenaran. Dan sepanjang sejarah itu pula perdebatan mengenai arti dan cara mencapai kebenaran diperdebatkan.
Zaman Yunani Kuno
Diawali oleh Socrates ( ± 469-399) sebagai tokoh yang patut disebut mengawali pembicaraan mengenai kebenaran. Meskipun tidak secara langsung berbicara mengenai kebenaran ilmiah tetapi ia tidak menyetujui relativitas yang terdapat pada kaum sophis. Menurutnya terdapat kebenaran objektif, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang tidak baik; ada tidakan yang pantas dan ada yang tidak pantas. Socrates telah meletakkan dasar bagi berkembangnya gagasan tentang adanya kebenaran (Bertens, 1991; 86). Pendapat Socrates dilanjutkan oleh Plato (427-322 SM). Menurut Plato kebenaran merupakan ketak-tersembunyian adanya. Hal ini berarti selama kita masih terikat pada yang ada (the being) saja tanpa masuk adanya dari yang ada itu kita belum berjumpa dengan kebenaran karena adanya (being) itu masih tersembunyi. Barulah dengan hilangnya atau diambilnya selubung yang menutup adanya dari yang ada itu terhadap mata batin kita, maka terbukalah adanya dan serentak dengan itu tampillah kebenaran (Verhaak & Haryono, 1991; 126).
Aristoteles (384-322) lebih melihat kebenaran dari cara yang dipakai pengenal melalui suatu sistem berfikir ilmiah yang dikenal dengan logika. Berkaitan dengan ini dia mengemukakan bahwa cara berfikir ilmiah itu terdiri dari pengertian, petimbangan, dan penalaran. Menurutnya, pengertian mengngkapkan adanya 10 kategori yaitu substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, keadaan, mempunyai, berbuat, menderita. Segala pengertian dapat digabungkan sehingga membentuk suatu pertimbangan. Dengan petimbangan tersebut dapat digabungkan sehingga menghasilkan silogisme (Hadiwiyono, 1980; 45-47).
Zaman Abad Pertengahan
Tokoh yang patut disebut ddalam abad pertengahan ini adalah Thomas Aquinas (1224-1274). Thomas Aquinas mendefinisikan kebenaran sebagai “adequatio rei et intellectus” yaitu kesesuaian, kesamaan pikiran dengan hal, benda. Oleh karena itu kebenaran merupakan istilah transendental yang mengena kepada semua yang ada; dalam arti tertentu kebenaran bukanlah suatu pernyataan tentang cara hal-hal berada tetapi melulu hal-hal itu sendiri (Bagus, 1996; 415).
Menurut Wibisono (1999) pada zaman abad pertengahan ini kita tidak bisa melupakan para filsuf Arab seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Al-Ghazaly. Mereka telah menyebarkan filsafat Aristoteles ke Cordova Spanyol dan kemudian diwariskan serta dikembangkan oleh para kaum Patristik dan Skolastik di dunia barat sehingga tepat apabila dikatakan jika orang-orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah dan orang Muslim adalah Bapak angkatnya.
Zaman Modern
Pada zaman modern ini diwarnai dengan timbulnya aliran-aliran tentang perolehan ilmu pengetahuan atau kebenaran ilmiah. Diantaranya adalah Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme. Tiga tokoh besar yang mewakili ketiga aliran tersebut adalah Rene Descartes, David Hume, dan Immanuel Kant.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme ini secara luas merupakan pendekatan filosofis yang menekankan adanya akal budi atau rasio sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi (Hadiwiyono, 1980, 2; 18).
Peletak dasar dari aliran ini adalah Rene Descarte (1596-1650). Menurut Descartes, cara untuk membedakan ada tidaknya kebenaran adalah ada tidaknya ide yang jelas dan terpilah-pilah mengenai sesuatu (idea clara et distincta). Akibat pernyataan itu lebih lanjut adalah isi ide yang jelas dan terpilah-pilah itu menjadi benar sehingga kebenaran disamakan dengan idea tersebut. Idea itu pertama-tama terdapat dalam subjek pengetahuan, maka kebenaran-pun demikian, tanpa ada hubungan dengan dunia luar, maka kebenaran hanya sebagai suatu kesimpulan dari adanya kebenaran dalam idea tersebut. Terwujudnya kebenaran ditegaskan sebagai suatu kenyataan (Hadiwiyono, 1980; 18).
Empirisme
David Hume – sebagai tokoh peletak dasar bagi empirisme – menolak rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan sejati berasal dari rasio. Sanggahan Hume ini secara konsekuen terdapat dalam penjelasannya tentang tidak adanya substansi dalam kesadaran kita. Baginya kesatuan ciri-ciri yang disebut substansi oleh rasionalisme hanyalah fiksi, sekumpulan kesan-kesan (a bundle of collection of perception), substansi hanyalah sekumpulan persepsi saja. Menurutnya hakekat ide-ide itu selalu empiris (Yumartana, 1993; 21).
Aliran empirisme secara umum merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi satu0satunya sumber pengetahuan baik pengalaman lahiriyah atau batiniyah. Informasi yang disajikan kepada kita berguna secara fundamental sebagai ilmu pengetahuan. Akal budi tidak dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita (Bagus, 1996; 31-38)
Kritisisme
Immanul Kant adalah peletak dasar dari aliran kritisisme. Dalam arti luas, kritisisme merupakan sebuah epistemologi yang menempatkan akal budi sebagai nilai yang amat tinggi tetapi akal budi memiliki keterbatasan. Oleh karena itu Kant mencoba mendamikana rasionalisme dengan empirisme dengan berpendapat bahwa pengetahuan bersifat sintesis. Pengetahuan inderawi atau empirisme merupakan sintesis dari pengamatan ruang dan waktu. Kemudian pengetahuan akal merupakan sintesis pengetahuan. Implikasinya yang dihasilkan bukanlah pengetahuan das ding an sich, untuk itu rasio dan akal budi memberi arah kepada akal ketika tidak mampu mengetahuinya. Kant menyebutnya sebagai idealisme transdental atau idealiseme kritis (Hadiwiyono, 1980, 2; 63-82).
Positivisme
Abad ke-19 dapat diakatakan sebagai abad positivisme – dengan tokohnya Auguste Comte (1798-1857) -, karena pengaruh aliran ini demikian kuatnya dalam dunia modern. Filsafat menjadi praktis bagi tingkah laku manusia sehingga tidak lagi memandang penting berfikir yang bersifat abstrak (Wibisono, 1996;1).
Positivisme kata kuncinya terletak pada kata positif itu sendiri yaitu lawan dari kahayal, merupakan sesuatu yang riil dan objek penyelidikannya didasarkan pada kemampuan akal (Wibisono, 1996; 37). Kata positif juga lawan dari sesuatu yang tidak bermanfaat dan disinilah terjadi progress (kemajuan). Positif juga berarti jelas dan tepat. Disinilah diperlukan filsafat yang mampu memberi atau mebeberkan fenomena dengan tepat dan jelas. Positif juga lawan dari kata negatif dan ada keterkaitan selalu dengan masalah yang menuju kepada penataan atau penertiban.
Penggilongan ilmu pengetahuan oleh Comte didasarkan kepada sejarah ilmu itu sendiri yang menunjuk adanya gejala yang umum yang mempunyai sifat sederhana menuju kepada gejala yang komplek dan semakin konkret. Ilmu-ilmu yang dimaksud adalah ilmu pasti (matematika) dan secara berturut-turut astronomi, fisika, kimia, biologi, dan akhirnya fisika sosial atau sosiologi (Wibisono, 1996; 25). Penggolongan tersbut menyaratkan adanya perkembangan ilmu yang lambat dan cepat. Yang paling cepat perkembangannya adalah yang sederhana dan umum objeknya. Dan ada yang paling lambat perkembangannya adalah yang paling kompleks objek permasalahannya, misalnya fisika sosial.
Sejarah manusia berkembang menurut tiga tahap yaitu tahap teologi atau fiktif, tahap metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau riil (Wibisono, 1996; 11). Tahap teolohi atau fiktif merupakan tahap dimana manusia menggambarkan fenomena alam sebagai produk dari tindakan langsung, hal yang berifat supranatural. Pada tahap ini manusia mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada dengan selalu mengkontekstualisasikan dengan hal yang sifatnya mutlak.
Tahap metafisik merupakan tahap dimana kekuatan-kekuatan supranatural digantikan oleh kekuatan yang bersifat abstrak, yang dipercaya mampu mengungkapkan rahasia fenomena yang dapat diamati. Dogma-dogma telah ditingglakan dan kemampua akal budi manusia dikembangkan secara maksimal sehingga kekuatan yang bersifat magis digantikan dengan analisis berfikir untuk membedakan yang natural dan supranatural, yang fisik dan metafisik sehingga manusia berperan sebagai subjek yang berjaraak dengan objek. Comte menggambarkan sebagai tahap perkembangan manusia dari sifat ketergantungan menuju sifat mandiri atau dewasa. Tahap ini merupakan masa peralihan yang penuh konflik dan merupakan tahap yang menentukan menuju tahap positivisme.
Tahap ketiga adalah postivisme yaitu orang mulai menoleh, mencari sebab-sebab terakhir dari kejadian alam, kemudian berubah kepada penemuan hukum-hukum yang menyelimuti dengan menggunakan pengamatan dan pemikiran. Tahap ini merupakan tahap science dengan tugas pokok memprediksi fenomena alam dalam rangka memanfaatkannya. Manusia telah sampai pada pengetahuan yang positif yang dapat dicapai melalui observasi, eksperimen, komparasi dan hukum-hukum umum. Pengetahuan yang demikian menunjuk pada pengetahuan yang pasti, riil, jelas dan bermanfaat.
Comte dengan ilmu pengetahuan positifnya, yang pada tahap akhir perkembangan akal budi manusia menjadi pedoman hidup dan landasan kultural, institusional dan kenegaraan untuk menuju masyarakat yang maju dan tertib, merdeka dan sejahtera. Bangunan ilmu pengetahuan positif itu adalah sebagai berikut.
Asumsi pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat objektif (bebas nilai dan netral). Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua pihak, pihak subjek dan objek. Pada pihak subjek seorang ilmuwan tidak boleh membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri misalnya sentimen, penilaian etnis, kepentingan pribadi atau kelompok, kepercayaan agama, filsafat dan lain sebagainya yang bisa mempengaruhi objektivitas dari objek yang sedang diamati. Pada pihak objek, aspek-aspek dan dimensi-dimensi lain yang tidak bisa diukur dalam onservasi misalnya roh atau jiwa, tidak dapat ditolerir keberadannya. Laporan atau teori-teori ilmiah hanya menjelaskan fakta-fakta dan kejadian-kejadian yang dapat diobservasi saja.
Asumsi kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi. Andaikata ilmu pengetahuan hanya diarahkan kepada hal-hal unik, yang hanya sekali saja terjadi, maka pengetahuan itu tidak dapat membantu kita untuk meramalkan atau emamstikan hal-hal yang akan terjadi. Padhal rmalan atau prediksi merupakan suatu tujuan terpenting ilmu pengetahuan.
Asumsi ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan antar hubungannya dengan fenomena-fenomena lain. Mereka diandaikan saling berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu sistem yang bersifat mekanis. Perhatian ilmuwan bukan diarahkan kepada hakekat dari gejal-gejala melainkan pada relasi-relasi luar khususnya relasi sebab akibat, antara benda-benda, gejala-gejala atau kejadian-kejadian.
Usaha Comte untuk merumuskan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat positif, objektif, ilmiah, dan universal pada akhirnya membawa dirinya pada ilmu pasti, dan studinya yang mendalam tentang hal ini mendorong dia pada kesimpulan bahwa ilmu pasti mempunyai tingkat kebenaran yang tertinggi, bebas dari penilaian-penilaian subjektuf dan berlaku universal. Oleh sebab itu suatu penjelasan tentang fenomena tanpa disertai dengan pertimbangan ilmu pasti (matematika dan statistika) adalah non-sense belaka. Tanpa ilmu pasti ilmu pengetahuan akan kembali menjadi metafisika (Abidin, 2000; 121-124).
http://wangmuba.com/2009/04/20/filsafat-ilmu-dan-ilmu-pengetahuan-sebagai-jalan-menuju-kebenaran/
Ditulis WangMuba pada 20 Apr. 2009, Kategori ARTIKEL, Filsafat Ilmu & Psikologi
PENGERTIAN FILSAFAT
Secara epistimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia, dan terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan). Namun pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana kita mendefinisi filsafat itu sendiri? Hamersma (1981: 10) mengatakan bahwa Filsafat merupakan pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan Jadi, dari definisi ini nampak bahwa kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat kebenaran”.
Sebenarnya, pengertian tentang filsafat cukup beragam. Titus et.al (dalam Muntasyir&Munir, 2002: 3) memberikan klasifikasi pengertian tentang filsafat, sebagai berikut :
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentris.
5. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Ciri-Ciri Berpikir Dalam Filsafat
Dalam memahami suatu permasalahan, ada perbedaan tentang karakteristik dalam berfikir antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain. Mudhofir dalam Muntasyir&Munir (2002: 4-5) mengatakan bahwa ciri-ciri berfikir kefilsafatan sebagai berikut :
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?
4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Bidang dalam Filsafat
Secara umum, bidang-bidang utama filsafat terbagi menjadi 3 bagian, yaitu metafisika, epistimologi dan aksiologi. Secara ringkas ketiga bidang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Metafisika. Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta ta physika yang berarti segala sesuatu yang berada di balik hal-hal yang sifatnya fisik. Metafisika sendiri dapat diartikan sebagai cabang filsafat yang paling utama, yang membicarakan mengenai keberadaan (being) dan eksistensi (existence). Oleh karena itu, metafisika lebih mempelajari sesuatu atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Menurut Wolff, metafisika dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu :
* Metafisika Umum (Ontologi), yaitu metafisika yang membicarakan tentang “Ada” (Being).
* Metafisika Khusus, yaitu metafisika yang membicarakan sesuatu yang sifatnya khusus. Dalam metafisika khusus ini, Wolff membagi ke dalam 3 (tiga) kategori :
o Psikologi, yang membahas mengenai hakekat manusia
o Kosmologi, yang membahas mengenai alam semesta
o Theologi, yang membahas mengenai
2. Epistimologi. Epistimologi berasal dari kata Episteme yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti teori. Oleh karena itu, epistimologi berarti teori pengetahuan. Permasalahan-permasalahan yang menjadi fokus pembicaraan epistimologi adalah asal-usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubungan antara pengetahuan dan kebenaran, dan sebagainya. Dalam epistimologi, pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan kebenaran.
3. Aksiologi. Aksiologi berasal dari kata axios yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos yang berarti akal atau teori. Oleh karena itu, aksiologi dapat diartikan sebagai teori mengenai sesuatu yang bernilai. Dalam cabang ini, salah satu yang paling mendapatkan perhatian adalah masalah etika/kesusilaan. Dalam etika, obyek materialnya adalah perilaku manusia yang dilakukan secara sadar. Sedangkan obyek formalnya adalah pengertian mengenai baik atau buruk, bermoral atau tidak bermoral dari suatu perilaku manusia.
DEFENISI FILSAFAT ILMU
Menurut Beerling (1985; 1-2) filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara utnuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjuta. Dia merupakan suatu bentuk pemikiran secara mendalam yang bersifat lanjutan atau secondary reflexion. Refleksi sekunder seperti itu merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada. Refelksi sekunder banyak memberi sumbangan dalam usaha memberi tekanan perhatian pada metodikaserta sistem dan untuk berusaha memperoleh pemahaman mengenai azas-azas, latar belakang serta hubungan-hubungan yang dipunyai kegiatan ilmiah. Sumbangan tersebut bisa berbentuk (1) mengarahkan metode-metode penyelidikan ilmiah kejuruan kepada penyelenggaaraan kegiatan ilmiah; (2) menerapkan penyelidikan kefilsafatan terhadap terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah. Dalam hal ini mempertanyakan kembali secara de-jure mengenai landasan-landasan serta azas-azas yang memungkinkan ilmu itu memberi pembenaran pada dirinya serta apa yang dianggapnya benar.
Filsafat ilmu adalah refleksi yang mengakar terhadap prinsip-prinsip ilmu. Prinsip ilmu adalah sebab fundamental dan kebenaran universal yang lengket didalam ilmu yang pada akhirnya memberi jawaban terhadap keberadaan ilmu. Dengan mengetahui seluk-beluk prinsip ilmu itu maka dapat diungkapkan perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan perkembangannya, keterjalinan antar ilmu, ciri penanganan secara ilmiah, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan sebagainya yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri (Suriasumantri, 1986; 301-302). Filsafat ilmu pengetahuan membahas sebab musabab pengetahuan dan menggali tentang kebenaran, kepastian, dan tahap-tahapnya, objektivitas, abstraksi, intuisi, dan juga pertanyaan mengenai “dari mana asalnya dan kemana arah pengetahuan itu?” (Verhaak & Haryono, 1989; 12-13).
Perbedaan filsafat ilmu dengan filsafat atau ilmu-ilmu lain seperti sejarah ilmu, psikologi, sosiologi, dan sebagainya terletak apada masalah yang hendak dipecahkan dan metode yang akan digunakan. Filsafat ilmu tidak berhenti pada pertanyaan mengenai bagaimana pertumbuhan serta cara penyelenggaraan ilmu dalam kenyatannya, melainkan mempermasalahkan masalah metodologik, yakni mengenai azas-azas serta alasan apakah yang menyebabkan ilmu dapat menyatakan bahwa ia memperoleh pengetahuan ilmiah (Beerling, 1985; 2). Pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab oleh ilmu itu sendiri tetapi membutuhkan analisa kefilsafatan mengenai tujuan serta cara kerja ilmu. Pertalian antara filsafat dan ilmu harus terjelma dalam filsafat ilmu. Kedudukan filsafat iilmu dalam lingkungan fisafat secara keseluruhan adalah pertama, bahwa filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat ilmupengetahuan (epistemologi); kedua, filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu dijumbuhkan denganmetodologi (Beerling, 1985; 4). Hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan lebih erat dalam bidang ilmu pengetahuan manusia. Ilmu-ilmu manusia seringkali lebih jelas masih mempunyai filsafat ilmu tersembunyi (Bertens, 1987; 21 dan Katsoff, 1986; 105-106).
HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan. Antara definisi filsafat dan ilmu pengetahuan memang hampir mirip namun kalau kita menyimak bahwa di dalam definisi ilmu pengetahuan lebih menyoroti kenyataan tertentu yang menjadi kompetensi bidang ilmu pengetahuan masing-masing, sedangkan filsafat lebih merefleksikan kenyataan secara umum yang belum dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan (Muntasyir&Munir,2000: 10). Walaupun demikian, ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidikinya, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Wibisono (1997: x) pada Artikel kunci “Gagasan Strategik Tentang Kultur Keilmuan Pada Pendidikan Tinggi”, yang mengambil pendapat H.J. Pos, beliau menandaskan bahwa abad ke-19 dan 20, dan bahkan sampai sekarang, diidentifikasi sebagai suatu abad yang ditandai oleh dominasinya peran ilmu pengetahuan dalam kehidupan umat manusia.
Dominasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia memang tidak dapat dipungkiri. Betapa tidak, dominasi ini paling kurang membawa pengaruh dan manfaat bagi manusia, atau justru berpengaruh negatif dan membawa malapetaka. Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Ahmad Syukri (1997: 18-19), ilmu yang berorientasi pada kepentingan pragmatis, orientasi duniawi, atau mengesampingkan yang transenden, akan membawa malapetaka bagi kemanusiaan pada umumnya. Ilmu dinilai bukan karena dirinya sendiri, tetapi nilai ilmu pengetahuan berada dalam kesanggupannya membuat kehidupan lebih bernilai dan memberikan kebahagiaan, demi kebutuhan untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan manusia, maka bentuk ilmu itu memberikan kemanfaatan.
Selanjutnya, dalam bukunya yang berjudul Epistemologi Dasar, J. Sudarminta mengatakan bahwa ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia yaitu:
1. kepastian mutlak tentang kebenaran segala pengetahuan kita memang tidak mungkin, sebab manusia adalah makhluk contingent dan fallible. Tetapi ini tidak berarti bahwa semua pengetahuan manusia pantas dan perlu dipergunakan kebenarannya. Maka, skeptisisme mutlak pantas ditolak.
2. subjek berperan aktif dalam kegiatan mengetahui dan tidak hanya bersifat pasif menerima serta melaporkan objek apa adanya. Tetapi ini tidak berarti bahwa pengetahuan manusia melulu bersifat subjektif. Maka, subjektivisme radikal juga pantas disangkal.
3. pengetahuan manusia memang bersifat relasional dan kontekstual, tetapi itu tidak berarti bahwa objektivitas dan universalitas pengetahuan menjadi tidak mungkin. Menurut Sudarminta (2002: 60) pelbagai bentuk relativisme ilmu pengetahuan, walaupun punya sumbangan yang berharga, merupakan suatu pandangan tentang pengetahuan yang tidak bisa diterima.
DASAR-DASAR ILMU PENGETAHUAN
Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Tetapi jauh sebelum Aristoteles, Socrates mengatakan hal yang nampaknnya bertentangan dengan ungkapan Aristoteles tersebut, yaitu bahwa tidak ada seorang manusia pun yang mempunyai pengetahuan (Hadi, 1994: 13). Kontradiktif ini tidak perlu diperdebatkan. Sebab menurut Plato bahwa filsafat dimulai dengan rasa kagum. Kekaguman filosofis ini bukanlah kekaguman akan hal-hal yang rumit, canggih atau kompleks, tetapi justru kekaguman akan sesuatu yang sederhana yang tampaknya jelas dalam pengalaman sehari-hari.
Hadi (1994: 14-15) menyatakan kekaguman dalam hal ini adalah mempertanyakan hal-hal yang ada dihadakan kita, yang dalam anggapan umum dianggap telah diketahui. Oleh karena itu seseorang harus tahu apa yang dicarinya dan berusaha untuk menemukan apa yang dicari tersebut, demikian menurut Plato.
Pengetahuan filosofis ingin menarik diri dari apa yang dianggap sebagai kejelasan umum untuk kembali ke dalam sesuatu yang eksistensial dalam keadaan aslinya. Karenanya, seorang filsuf tidak ada henti-hentinya bertanya. Pernyataan Socrates dan Aristoteles terkesan bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Menurut Aristoteles, semua orang dari kodratnya ingin tahu, dan langkah pertama untuk mencapai pengetahuan itu adalah kesadaran socrates bahwa tidak ada seorang pun yang sudah tahu. Untuk mencapai pengetahuan, Bernard Paduska&R. Turman Sirait ( 1997: 5), seseorang harus sadar bahwa ia “belum tahu” dan karena itu ia “ingin tahu”. Dalam redaksi berbeda, namun dapat disetir menjadi satu makna, bahwa menurut filsafat eksistensialisme anda adalah anda karena anda menghendaki demikian.
Dengan uraian di atas, kita dapat melihat adanya dua macam bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan harian atau penggetahuan biasa (common sense) dan pengetahuan ilmiah. Dalam filsafat, pengetahuan biasa sering dianggap sebagai pengetahuan inderawi, sedangkan pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan berdasarkan akal budi (intelektif).
Korelasi pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif membentuk dasar dalam perkembangan ilmu pengetahuan secara global. Sejarahnya telah terukir, betapa dua konsep dasar ini menjadi cikal-bakal yang meletakkan dasar konsep ilmiah. Keilmuan yang ilmiah dapat lahir dari pengamatan yang mendalam tentang semua objek, tetapi juga dasar ilmiah dapat dibangun dari perenungan yang jernih dan mendalam, terukur dan dapat dianalisa, sistematis serta dapat dipelajari, itulah sebagian konsep ilmiah.
Socrates adalah tokoh yang sangat diperhitungkan, meskipun ia tidak secara langsung bicara tentang kebenaran ilmiah. Ketika itu Socrates berhadapan dengan kaum sofis. Filsafat Socrates bahkan sering disebut sebagai reaksi terhadap kaum sofis. Bagi Socrates, kebenaran objektif itu ada, dan bukan hal yang berbau teoritis tapi hidup praktis. Menurutnya, tidak sembarang tingkah laku disebut baik, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik; ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Dengan ini socrates meletakkan dasar berkembangnya gagasan tentang adanya kebenaran, kemudian dilanjutkan dengan oleh Plato. Bagi Plato kebenaran adalah sesuatu yang terdapat pada apa yang dikenal, atau pada apa yang dikejar untuk dikenal . Hal ini sesuai dengan ajaran Plato mengenai idea-idea, bahwa realitas yang sesungguhnya berada didalam dunia idea sedangkan realitas inderawi hanyalah bayang-bayang (Bertens K, 1991: 110-111).
Menurut Wibisono dalam makalahnya mengatakan, Sejalan dengan perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesatnya. Dalam perjalanan selanjutnya, terdapat fenomena adanya suatu konfigurasi yang menunjukkan tentang bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” itu telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang-filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Berkaitan dengan ilmu-ilmu, pengetahuan yang dicari dan diperoleh sering disebut dengan istilah pengetahuan ilmiah. Menurut Bahm ( 1980: 1) ada lima unsur pokok dalam suatu pengetahuan yang disebut ilmiah yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh tertentu. Aristoteles menguraikan sistem berpikir ilmiah yang dikenal dengan logika. Menurut Aristoteles terdapat sepuluh kategori yang berkaitan dengan pengertian, yaitu substanti, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, keadaan, mempunyai, berbuat, dan menderita.
Pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang sudah dipertanggung-jawabkan secara ilmiah atau diperoleh dengan metode ilmiah. Sebaliknya, pengetahuan sehari-hari yang tidak atau belum dipertanggungjawabkan secara ilmiah disebut pengetahuan pra-ilmiah (Lorens, 1996: 806). Salah satu ciri pengetahuan ilmiah adalah adanya anggapan bahwa pengetahuan ilmiah itu berlaku ilmiah. Mengeni apakah sesuatu dapat atau tidak disebut ilmiah tidak tergantung pada faktor-faktor subjektif. Bisa saja orang berbeda pendapat tentang dasar pembenaran suatu teori, tetapi hal tersebut hanya menunjukkan bahwa faktor-faktor objektif yang bersangkut paut dengan persoalan tadi tidak atau masih dapat membuahkan hasil yang tidak bermakna ganda (ambiguitas). Adanya saling pengaruh antara sifat dan kadar pengetahuan ilmiah dengan sarana-sarana untuk mencapainya mengakibatkan pergeseran-pergeseran, pengertian “ilmiah” sepanjang sejarah. Namun demikian perkembangan ilmu secara mandiri harus dapat dipertahankan.
Menurut Beerling,dkk (1996: 6-7) secara spesifik ada tiga macam pengenalan dari pengetahuan yang disebut ilmiah. (1) pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang mempunyai dasar pembenaran. Setiap pengetahuan ilmiah harus punya dasar pembenaran berdasarkan pemahaman-pemahaman yang dapat dibenarkan secara apriori serta secara empiris melalui penyelidikan ilmiah yang memadai. (2) pengetahuan ilmiah bersifat sistematis. Penyelidikan ilmiah tidak membatasi diri hanya pada satu bahan saja, tapi senantiasa mencari hubungan dengan sejumlah bahan lainnya dan berusaha agar hubungan-hubungan itu merupakan suatu kebulatan. (3) pengetahuan ilmiah itu adalah bersifat inter-subjektif. Kepastian pengetahuan ilmiah tidak didasarkan atas intuisi-intuisi serta pemahaman orang perorangan yang subjektif, melainkan dijamin oleh sistemnya sendiri. Pengetahuan ilmiah haruslah sedemikian rupa sehingga dalam setiap bagiannya dan dalam bagian yang menyeluruh dapat ditanggapi oleh subjek-subjek lain. Terhadap hasil penyelidikan dimungklinkan ada kesepakatan yang bersifat inter-subjektif.
Di samping apa yang sudah diuraikan di atas, menurut Sudarminta (2002: 32-44) perlu ditambahkan juga bahwa dasar-dasar pengetahuan itu tidak lepas dari peran pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa, dan kebutuhan hidup manusia .
CARA MENCAPAI KEBENARAN
Dalam sejarah kehidupan, manusia selalu berusaha untuk mencari kebenaran. Dan sepanjang sejarah itu pula perdebatan mengenai arti dan cara mencapai kebenaran diperdebatkan.
Zaman Yunani Kuno
Diawali oleh Socrates ( ± 469-399) sebagai tokoh yang patut disebut mengawali pembicaraan mengenai kebenaran. Meskipun tidak secara langsung berbicara mengenai kebenaran ilmiah tetapi ia tidak menyetujui relativitas yang terdapat pada kaum sophis. Menurutnya terdapat kebenaran objektif, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang tidak baik; ada tidakan yang pantas dan ada yang tidak pantas. Socrates telah meletakkan dasar bagi berkembangnya gagasan tentang adanya kebenaran (Bertens, 1991; 86). Pendapat Socrates dilanjutkan oleh Plato (427-322 SM). Menurut Plato kebenaran merupakan ketak-tersembunyian adanya. Hal ini berarti selama kita masih terikat pada yang ada (the being) saja tanpa masuk adanya dari yang ada itu kita belum berjumpa dengan kebenaran karena adanya (being) itu masih tersembunyi. Barulah dengan hilangnya atau diambilnya selubung yang menutup adanya dari yang ada itu terhadap mata batin kita, maka terbukalah adanya dan serentak dengan itu tampillah kebenaran (Verhaak & Haryono, 1991; 126).
Aristoteles (384-322) lebih melihat kebenaran dari cara yang dipakai pengenal melalui suatu sistem berfikir ilmiah yang dikenal dengan logika. Berkaitan dengan ini dia mengemukakan bahwa cara berfikir ilmiah itu terdiri dari pengertian, petimbangan, dan penalaran. Menurutnya, pengertian mengngkapkan adanya 10 kategori yaitu substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, keadaan, mempunyai, berbuat, menderita. Segala pengertian dapat digabungkan sehingga membentuk suatu pertimbangan. Dengan petimbangan tersebut dapat digabungkan sehingga menghasilkan silogisme (Hadiwiyono, 1980; 45-47).
Zaman Abad Pertengahan
Tokoh yang patut disebut ddalam abad pertengahan ini adalah Thomas Aquinas (1224-1274). Thomas Aquinas mendefinisikan kebenaran sebagai “adequatio rei et intellectus” yaitu kesesuaian, kesamaan pikiran dengan hal, benda. Oleh karena itu kebenaran merupakan istilah transendental yang mengena kepada semua yang ada; dalam arti tertentu kebenaran bukanlah suatu pernyataan tentang cara hal-hal berada tetapi melulu hal-hal itu sendiri (Bagus, 1996; 415).
Menurut Wibisono (1999) pada zaman abad pertengahan ini kita tidak bisa melupakan para filsuf Arab seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Al-Ghazaly. Mereka telah menyebarkan filsafat Aristoteles ke Cordova Spanyol dan kemudian diwariskan serta dikembangkan oleh para kaum Patristik dan Skolastik di dunia barat sehingga tepat apabila dikatakan jika orang-orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah dan orang Muslim adalah Bapak angkatnya.
Zaman Modern
Pada zaman modern ini diwarnai dengan timbulnya aliran-aliran tentang perolehan ilmu pengetahuan atau kebenaran ilmiah. Diantaranya adalah Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme. Tiga tokoh besar yang mewakili ketiga aliran tersebut adalah Rene Descartes, David Hume, dan Immanuel Kant.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme ini secara luas merupakan pendekatan filosofis yang menekankan adanya akal budi atau rasio sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi (Hadiwiyono, 1980, 2; 18).
Peletak dasar dari aliran ini adalah Rene Descarte (1596-1650). Menurut Descartes, cara untuk membedakan ada tidaknya kebenaran adalah ada tidaknya ide yang jelas dan terpilah-pilah mengenai sesuatu (idea clara et distincta). Akibat pernyataan itu lebih lanjut adalah isi ide yang jelas dan terpilah-pilah itu menjadi benar sehingga kebenaran disamakan dengan idea tersebut. Idea itu pertama-tama terdapat dalam subjek pengetahuan, maka kebenaran-pun demikian, tanpa ada hubungan dengan dunia luar, maka kebenaran hanya sebagai suatu kesimpulan dari adanya kebenaran dalam idea tersebut. Terwujudnya kebenaran ditegaskan sebagai suatu kenyataan (Hadiwiyono, 1980; 18).
Empirisme
David Hume – sebagai tokoh peletak dasar bagi empirisme – menolak rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan sejati berasal dari rasio. Sanggahan Hume ini secara konsekuen terdapat dalam penjelasannya tentang tidak adanya substansi dalam kesadaran kita. Baginya kesatuan ciri-ciri yang disebut substansi oleh rasionalisme hanyalah fiksi, sekumpulan kesan-kesan (a bundle of collection of perception), substansi hanyalah sekumpulan persepsi saja. Menurutnya hakekat ide-ide itu selalu empiris (Yumartana, 1993; 21).
Aliran empirisme secara umum merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi satu0satunya sumber pengetahuan baik pengalaman lahiriyah atau batiniyah. Informasi yang disajikan kepada kita berguna secara fundamental sebagai ilmu pengetahuan. Akal budi tidak dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita (Bagus, 1996; 31-38)
Kritisisme
Immanul Kant adalah peletak dasar dari aliran kritisisme. Dalam arti luas, kritisisme merupakan sebuah epistemologi yang menempatkan akal budi sebagai nilai yang amat tinggi tetapi akal budi memiliki keterbatasan. Oleh karena itu Kant mencoba mendamikana rasionalisme dengan empirisme dengan berpendapat bahwa pengetahuan bersifat sintesis. Pengetahuan inderawi atau empirisme merupakan sintesis dari pengamatan ruang dan waktu. Kemudian pengetahuan akal merupakan sintesis pengetahuan. Implikasinya yang dihasilkan bukanlah pengetahuan das ding an sich, untuk itu rasio dan akal budi memberi arah kepada akal ketika tidak mampu mengetahuinya. Kant menyebutnya sebagai idealisme transdental atau idealiseme kritis (Hadiwiyono, 1980, 2; 63-82).
Positivisme
Abad ke-19 dapat diakatakan sebagai abad positivisme – dengan tokohnya Auguste Comte (1798-1857) -, karena pengaruh aliran ini demikian kuatnya dalam dunia modern. Filsafat menjadi praktis bagi tingkah laku manusia sehingga tidak lagi memandang penting berfikir yang bersifat abstrak (Wibisono, 1996;1).
Positivisme kata kuncinya terletak pada kata positif itu sendiri yaitu lawan dari kahayal, merupakan sesuatu yang riil dan objek penyelidikannya didasarkan pada kemampuan akal (Wibisono, 1996; 37). Kata positif juga lawan dari sesuatu yang tidak bermanfaat dan disinilah terjadi progress (kemajuan). Positif juga berarti jelas dan tepat. Disinilah diperlukan filsafat yang mampu memberi atau mebeberkan fenomena dengan tepat dan jelas. Positif juga lawan dari kata negatif dan ada keterkaitan selalu dengan masalah yang menuju kepada penataan atau penertiban.
Penggilongan ilmu pengetahuan oleh Comte didasarkan kepada sejarah ilmu itu sendiri yang menunjuk adanya gejala yang umum yang mempunyai sifat sederhana menuju kepada gejala yang komplek dan semakin konkret. Ilmu-ilmu yang dimaksud adalah ilmu pasti (matematika) dan secara berturut-turut astronomi, fisika, kimia, biologi, dan akhirnya fisika sosial atau sosiologi (Wibisono, 1996; 25). Penggolongan tersbut menyaratkan adanya perkembangan ilmu yang lambat dan cepat. Yang paling cepat perkembangannya adalah yang sederhana dan umum objeknya. Dan ada yang paling lambat perkembangannya adalah yang paling kompleks objek permasalahannya, misalnya fisika sosial.
Sejarah manusia berkembang menurut tiga tahap yaitu tahap teologi atau fiktif, tahap metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau riil (Wibisono, 1996; 11). Tahap teolohi atau fiktif merupakan tahap dimana manusia menggambarkan fenomena alam sebagai produk dari tindakan langsung, hal yang berifat supranatural. Pada tahap ini manusia mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada dengan selalu mengkontekstualisasikan dengan hal yang sifatnya mutlak.
Tahap metafisik merupakan tahap dimana kekuatan-kekuatan supranatural digantikan oleh kekuatan yang bersifat abstrak, yang dipercaya mampu mengungkapkan rahasia fenomena yang dapat diamati. Dogma-dogma telah ditingglakan dan kemampua akal budi manusia dikembangkan secara maksimal sehingga kekuatan yang bersifat magis digantikan dengan analisis berfikir untuk membedakan yang natural dan supranatural, yang fisik dan metafisik sehingga manusia berperan sebagai subjek yang berjaraak dengan objek. Comte menggambarkan sebagai tahap perkembangan manusia dari sifat ketergantungan menuju sifat mandiri atau dewasa. Tahap ini merupakan masa peralihan yang penuh konflik dan merupakan tahap yang menentukan menuju tahap positivisme.
Tahap ketiga adalah postivisme yaitu orang mulai menoleh, mencari sebab-sebab terakhir dari kejadian alam, kemudian berubah kepada penemuan hukum-hukum yang menyelimuti dengan menggunakan pengamatan dan pemikiran. Tahap ini merupakan tahap science dengan tugas pokok memprediksi fenomena alam dalam rangka memanfaatkannya. Manusia telah sampai pada pengetahuan yang positif yang dapat dicapai melalui observasi, eksperimen, komparasi dan hukum-hukum umum. Pengetahuan yang demikian menunjuk pada pengetahuan yang pasti, riil, jelas dan bermanfaat.
Comte dengan ilmu pengetahuan positifnya, yang pada tahap akhir perkembangan akal budi manusia menjadi pedoman hidup dan landasan kultural, institusional dan kenegaraan untuk menuju masyarakat yang maju dan tertib, merdeka dan sejahtera. Bangunan ilmu pengetahuan positif itu adalah sebagai berikut.
Asumsi pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat objektif (bebas nilai dan netral). Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua pihak, pihak subjek dan objek. Pada pihak subjek seorang ilmuwan tidak boleh membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri misalnya sentimen, penilaian etnis, kepentingan pribadi atau kelompok, kepercayaan agama, filsafat dan lain sebagainya yang bisa mempengaruhi objektivitas dari objek yang sedang diamati. Pada pihak objek, aspek-aspek dan dimensi-dimensi lain yang tidak bisa diukur dalam onservasi misalnya roh atau jiwa, tidak dapat ditolerir keberadannya. Laporan atau teori-teori ilmiah hanya menjelaskan fakta-fakta dan kejadian-kejadian yang dapat diobservasi saja.
Asumsi kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi. Andaikata ilmu pengetahuan hanya diarahkan kepada hal-hal unik, yang hanya sekali saja terjadi, maka pengetahuan itu tidak dapat membantu kita untuk meramalkan atau emamstikan hal-hal yang akan terjadi. Padhal rmalan atau prediksi merupakan suatu tujuan terpenting ilmu pengetahuan.
Asumsi ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan antar hubungannya dengan fenomena-fenomena lain. Mereka diandaikan saling berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu sistem yang bersifat mekanis. Perhatian ilmuwan bukan diarahkan kepada hakekat dari gejal-gejala melainkan pada relasi-relasi luar khususnya relasi sebab akibat, antara benda-benda, gejala-gejala atau kejadian-kejadian.
Usaha Comte untuk merumuskan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat positif, objektif, ilmiah, dan universal pada akhirnya membawa dirinya pada ilmu pasti, dan studinya yang mendalam tentang hal ini mendorong dia pada kesimpulan bahwa ilmu pasti mempunyai tingkat kebenaran yang tertinggi, bebas dari penilaian-penilaian subjektuf dan berlaku universal. Oleh sebab itu suatu penjelasan tentang fenomena tanpa disertai dengan pertimbangan ilmu pasti (matematika dan statistika) adalah non-sense belaka. Tanpa ilmu pasti ilmu pengetahuan akan kembali menjadi metafisika (Abidin, 2000; 121-124).
http://wangmuba.com/2009/04/20/filsafat-ilmu-dan-ilmu-pengetahuan-sebagai-jalan-menuju-kebenaran/
Minggu, 03 Mei 2009
sejarah pemikiran filsafat
Sejarah Pemikiran Para Filsuf
Filsafat Kuno dan Pertengahan
A. Permulaan filsafat barat di Yunani Kuno ( 650 SM – 600 SM )
1. Bangsa Ionian
a. Thales (624 – 546)
arkhe (berupa air) merupakan prinsip dan dasar pertama dari segala sesuatu dan karenanya filsafat dinamakan filsafat alam.
b. Anaximander (611 – 547)
Arche itu yang tak terbatas (to aperion)
c. Anaximenes ( 599 – 524)
Arche itu udara.
d. Heraclitus of Epherus (540 – 460)
Arche itu api, segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei)
e. Pythagoras
Arche itu bilangan
B. Zaman Keemasan Filsafat Yunani
1. The eleatic school
Zeno dari elea adalah filsuf Yunani pra-socrates. Zeno penemu dialektik.
Paling terkenal untuk paradoksnya. Betrand Russell mendirikan logika modern. Permenides: segala sesuatu itu tetap tidak bergerak.
2. The Priralists (500 SM)
Empedocles (490-430 SM) berpendapat bahwa materi terdiri dari 4 unsur dasar yang disebut sebagai akar yaitu air, tanah, udara, dan api. Dan 1 tambahan lagi yaitu cinta.
3. The Atomist (450 SM)
Demokritus mengembangkan teori mengenai atom sebagai dasar materi. Demokritos juga berpendapat bahwa galaksi bimasakti merupakan kumpulan cahaya gugusan bintang yang letaknya saling berjauhan.
C. Zaman Helintis dan Romawi (350 SM-250 SM)
1. Socrates
berpendapat bahwa membangkitkan dalam diri manusia rasa cinta akan kebenaran dan kebajikan yang membantu manusia berpikir dan hidup lurus.
2. Plato
mengatakan bahwa pengertian manusia hanyalah ingatan kepada gambaran asli yang dinamakan ‘Idea’ atau ‘cita’. Plato mengatakan bahwa realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia ynag pertama dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.
3. Aristoteles
Meletakkan dasar logika ilmu. Aristoteles mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. Ada 3 macam abstraksi yakni abstraksi fisis, matematis, metafisis. Teori aristoteles yang terkenal tentang materi dan bentuk.
Epicurusme
Segala sesuatu terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa. Epicurus berpendapat manusia barulah merasa bahagia bila mempunyai kepastian. Untuk memperoleh kepastian diperlukan adanya ilmu pengetahuan mengenai hakikat yang sebenarnya dari segala sesuatu. Ia memberikan pedoaman pengetahuan sebagai dasar untuk membangun kebijaksanaan yang sebenarnya yang tertuang dalam bukunya “canonica”.
Stoisisme
Jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut ‘logos’
Skeptisisme
Bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran.
Eklektisisme
Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsure filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
D. Zaman Abad pertengahan
Dibagi menjadi 2 periode :
1. Periode patristic
a. Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat yunani maka agama Kristen memantabkan diri. Keluar memperkuat gereja dan kedalam menetapkan agama-agama.
b. Filsafat agustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristic. Agustinus melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
2. Periode Skolastik
a. Skolastik awal ditandai oleh pembentukan metode-metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat.
b. Puncak perkembangan skolastik: keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan yahudi.
c. Skolastik akhir, pemikiran kefilsafatan yang berkembang kea rah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak member petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal.
E. Zaman Renaissance
Era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Bacon beranggapan bahwa untuk menguasai alam kodrat, dasar pertama dari kekuasaan kita adalah pengalaman. Untuk mengetahui sifat-sifat dari segala sesuatu dibutuhkan penyelidikan yang empiris yang hasilnyadiolah dengan metode eksperimental/induktif. Tokoh-tokohnya : Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppelr, Galileo Galilei.
F. Zaman modern dan kontemporer
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Zaman modern juga ditandai dengan munculnya rasionalisme. Rene Descartes, B.Spinosa, G.Leibniz menekankan pentingnya rasio atau akal budi manusia.
Bapak filsafat modern: Rene Descartes, ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar.
1. Isaac Newton : teori gravitasi
2. Charles Darwin : teori strugglefor life ( perjuangan untuk hidup)
3. JJ Thompson : menemukan electron.
4. Spinoza : berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, tidak mungkin ada dua, yaitu yang meliputi segala sesuatu yang disebutnya “deussive sustantie” atau “des sive natura” yang menampakkan dirinya dalam bentuk tanda pralambang yang berupa keluasan/kelapangan dan kesadaran.
Zaman kontemporer ditandai denagn penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan pesat.
Aliran-aliran pada zaman ini adalah:
1. Empirisme
Paham yang meragukan validitas seluruh pengetahuan intelektual dan hanya menerima kepastian “sense knowledge”.
Tokoh-tokohnya : F.Bacon ( untuk menguasai alam kodrat dasar pertama pengalaman), Thomas Hobbes ( segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek-obyek yang bersifat kebendaan), John Lock, Isaac Newton (teori gravitasi), Berkeley (ilmu adalah tipuan belaka), Hume ( ilmu adalah totalitas pengalaman).
2. Rasionalisme
Paham yang meragukan validitas “sense knowledge” dan hanya menerima kepastian ilmu intelektual. Tokoh-tokohnya : Rene Descartes, B. Spinoza, Nicholas de Malebrance, Blaise Pascal, Leibniz (kebenaran terbagi atas 2 bagian berdasar pengalaman dan akal manusia).
3. Pencerahan
Tokoh : Montesquieu (trias politika), JJ Roseau, Voltair.
4. Positivisme
Pemikiran setiap manusia, pemikiran setiap ilmu, dan pemikiran suku bangsa manusia pada umumnya melewati 3 tahap: teologis, metafisis, tahap positive-ilmiah. Tahap teologis : manusia percaya bawha di belakang gejala alam tehadap kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap metafisis : kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, misalnya kodrat dan penyebab. Tokoh : August Comte, Ludwig Fakerbach, Karl Mark, Friedrich Engels.
5. Idealisme amerika : sesuatu tidak ada kecuali hanya dalam ide. Tokoh : Josiah Royce, Bordon Parker Bowne.
6. Idealisme
Fichte: pencipta istilah’these-anti-thes-synthese’
Scheling:filsafat ketidaksadaran
Hegel : pantheisme idealistis ( identitas realitas dan idealitas, yang secara dialektis nenperkembangkan diri menjadi roh mutlak, di lapangan kenegaraan berwujud absolutism mutlak).
7. Intuisisme
Henry Bergson: filsafat hidup, mengemukakan ajaran ‘Elan Vital’ yaitu kenyataan yang selalu ‘menjado’ hanya dapat dicapai dengan intuisi, tak dapat dinyatakan dengan pengertian-pengertian abstrak.
8. Fenomenologi
Membicarakan fenomena, gejala sesuatu yang menampakkan diri. Tokoh : Husserl, Mourice Merleau-Ponty.
9. Pragmatism
Mengajarkan ide-ide tidak ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu.
Filsafat Kuno dan Pertengahan
A. Permulaan filsafat barat di Yunani Kuno ( 650 SM – 600 SM )
1. Bangsa Ionian
a. Thales (624 – 546)
arkhe (berupa air) merupakan prinsip dan dasar pertama dari segala sesuatu dan karenanya filsafat dinamakan filsafat alam.
b. Anaximander (611 – 547)
Arche itu yang tak terbatas (to aperion)
c. Anaximenes ( 599 – 524)
Arche itu udara.
d. Heraclitus of Epherus (540 – 460)
Arche itu api, segala sesuatu itu terus mengalir (panta rhei)
e. Pythagoras
Arche itu bilangan
B. Zaman Keemasan Filsafat Yunani
1. The eleatic school
Zeno dari elea adalah filsuf Yunani pra-socrates. Zeno penemu dialektik.
Paling terkenal untuk paradoksnya. Betrand Russell mendirikan logika modern. Permenides: segala sesuatu itu tetap tidak bergerak.
2. The Priralists (500 SM)
Empedocles (490-430 SM) berpendapat bahwa materi terdiri dari 4 unsur dasar yang disebut sebagai akar yaitu air, tanah, udara, dan api. Dan 1 tambahan lagi yaitu cinta.
3. The Atomist (450 SM)
Demokritus mengembangkan teori mengenai atom sebagai dasar materi. Demokritos juga berpendapat bahwa galaksi bimasakti merupakan kumpulan cahaya gugusan bintang yang letaknya saling berjauhan.
C. Zaman Helintis dan Romawi (350 SM-250 SM)
1. Socrates
berpendapat bahwa membangkitkan dalam diri manusia rasa cinta akan kebenaran dan kebajikan yang membantu manusia berpikir dan hidup lurus.
2. Plato
mengatakan bahwa pengertian manusia hanyalah ingatan kepada gambaran asli yang dinamakan ‘Idea’ atau ‘cita’. Plato mengatakan bahwa realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia ynag pertama dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.
3. Aristoteles
Meletakkan dasar logika ilmu. Aristoteles mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. Ada 3 macam abstraksi yakni abstraksi fisis, matematis, metafisis. Teori aristoteles yang terkenal tentang materi dan bentuk.
Epicurusme
Segala sesuatu terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa. Epicurus berpendapat manusia barulah merasa bahagia bila mempunyai kepastian. Untuk memperoleh kepastian diperlukan adanya ilmu pengetahuan mengenai hakikat yang sebenarnya dari segala sesuatu. Ia memberikan pedoaman pengetahuan sebagai dasar untuk membangun kebijaksanaan yang sebenarnya yang tertuang dalam bukunya “canonica”.
Stoisisme
Jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut ‘logos’
Skeptisisme
Bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran.
Eklektisisme
Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsure filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
D. Zaman Abad pertengahan
Dibagi menjadi 2 periode :
1. Periode patristic
a. Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat yunani maka agama Kristen memantabkan diri. Keluar memperkuat gereja dan kedalam menetapkan agama-agama.
b. Filsafat agustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristic. Agustinus melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
2. Periode Skolastik
a. Skolastik awal ditandai oleh pembentukan metode-metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat.
b. Puncak perkembangan skolastik: keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan yahudi.
c. Skolastik akhir, pemikiran kefilsafatan yang berkembang kea rah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak member petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal.
E. Zaman Renaissance
Era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Bacon beranggapan bahwa untuk menguasai alam kodrat, dasar pertama dari kekuasaan kita adalah pengalaman. Untuk mengetahui sifat-sifat dari segala sesuatu dibutuhkan penyelidikan yang empiris yang hasilnyadiolah dengan metode eksperimental/induktif. Tokoh-tokohnya : Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppelr, Galileo Galilei.
F. Zaman modern dan kontemporer
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Zaman modern juga ditandai dengan munculnya rasionalisme. Rene Descartes, B.Spinosa, G.Leibniz menekankan pentingnya rasio atau akal budi manusia.
Bapak filsafat modern: Rene Descartes, ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar.
1. Isaac Newton : teori gravitasi
2. Charles Darwin : teori strugglefor life ( perjuangan untuk hidup)
3. JJ Thompson : menemukan electron.
4. Spinoza : berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, tidak mungkin ada dua, yaitu yang meliputi segala sesuatu yang disebutnya “deussive sustantie” atau “des sive natura” yang menampakkan dirinya dalam bentuk tanda pralambang yang berupa keluasan/kelapangan dan kesadaran.
Zaman kontemporer ditandai denagn penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan pesat.
Aliran-aliran pada zaman ini adalah:
1. Empirisme
Paham yang meragukan validitas seluruh pengetahuan intelektual dan hanya menerima kepastian “sense knowledge”.
Tokoh-tokohnya : F.Bacon ( untuk menguasai alam kodrat dasar pertama pengalaman), Thomas Hobbes ( segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek-obyek yang bersifat kebendaan), John Lock, Isaac Newton (teori gravitasi), Berkeley (ilmu adalah tipuan belaka), Hume ( ilmu adalah totalitas pengalaman).
2. Rasionalisme
Paham yang meragukan validitas “sense knowledge” dan hanya menerima kepastian ilmu intelektual. Tokoh-tokohnya : Rene Descartes, B. Spinoza, Nicholas de Malebrance, Blaise Pascal, Leibniz (kebenaran terbagi atas 2 bagian berdasar pengalaman dan akal manusia).
3. Pencerahan
Tokoh : Montesquieu (trias politika), JJ Roseau, Voltair.
4. Positivisme
Pemikiran setiap manusia, pemikiran setiap ilmu, dan pemikiran suku bangsa manusia pada umumnya melewati 3 tahap: teologis, metafisis, tahap positive-ilmiah. Tahap teologis : manusia percaya bawha di belakang gejala alam tehadap kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap metafisis : kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, misalnya kodrat dan penyebab. Tokoh : August Comte, Ludwig Fakerbach, Karl Mark, Friedrich Engels.
5. Idealisme amerika : sesuatu tidak ada kecuali hanya dalam ide. Tokoh : Josiah Royce, Bordon Parker Bowne.
6. Idealisme
Fichte: pencipta istilah’these-anti-thes-synthese’
Scheling:filsafat ketidaksadaran
Hegel : pantheisme idealistis ( identitas realitas dan idealitas, yang secara dialektis nenperkembangkan diri menjadi roh mutlak, di lapangan kenegaraan berwujud absolutism mutlak).
7. Intuisisme
Henry Bergson: filsafat hidup, mengemukakan ajaran ‘Elan Vital’ yaitu kenyataan yang selalu ‘menjado’ hanya dapat dicapai dengan intuisi, tak dapat dinyatakan dengan pengertian-pengertian abstrak.
8. Fenomenologi
Membicarakan fenomena, gejala sesuatu yang menampakkan diri. Tokoh : Husserl, Mourice Merleau-Ponty.
9. Pragmatism
Mengajarkan ide-ide tidak ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu.
Langganan:
Komentar (Atom)